BERANIKAH DUNIA PENDIDIKAN KITA JUJUR?
Oleh:
FITRIYANTO, S.Pd
“Ditengah
hingar bingar kampanye untuk membangun kembali kharakter bangsa yang mulai
pupus dari bumi pertiwi ini ternyata banyak sekali kasus yang justru merupakan
antithesis dari kampanye tersebut”.
Kasus
mencontek massal Ujian Nasional (UN) di salah satu sekolah dasar yang ada di
Surabaya yang pada akhirnya mencuat menjadi issue nasional ini sungguh telah menghenyakkan
Republik ini. Betapa tidak, siswa sekolah dasar yang masih polos dan tak
berdosa yang seharusnya ditanamkan nilai-nilai luhur dan ahlak mulia akan
tetapi justru dicekoki dengan racun kebohongan dan ketidakjujuran.Namun yang
menjadi pertanyaannya adalah; apakah kasus mencontek massal Ujian Nasional
hanya terjadi di sekolah dasar yang ada di Surabaya tersebut? Jawabannya, tidak.
Bukan rahasia bila kasus mencontek massal Ujian Nasionaljuga
telah terjadi di sekolah-sekolah lainnya, bukan hanya di sekolah dasar, di
tingkat SLTP, bahkan di tingkat SMA. Agaknya memang sudah jadi trend budaya
bangsa kita melakukan aktivitas secara massal; sunatan massal, mencontek
massal, berkelahi massal, kawin massal atau bahkan jika sudah jadi pejabat - korupsi
massal.
Ditengah hingar bingar kampanye untuk membangun kembali
kharakter bangsa yang mulai pupus dari bumi pertiwi ini ternyata banyak sekali
kasus yang justru merupakan antithesis dari kampanye tersebut. Untuk membangun
kembali kharakter bangsa kita yang luhur tidak cukup hanya dengan
slogan-slogan, tetapi dibutuhkan keberanian dan aksi yang nyata.
Keberanian orang tua siswa SD Negeri Ngadel, Surabaya
melaporkan kasus mencontek massal tersebut layak mendapatkan apresiasi dan
dukungan dari seluruh masyarakat, pakar pendidikan, para praktisi pendidikan
atau guru serta pemerintah sebagai pembuat kebijakan. Beranikah dunia
pendidikan kita jujur?Mengapa Ujian Nasional selalu menjadi kontroversi antara
pihak yang menganggap UN tidak perlu ada dan pihak yang menganggap UN harus ada?
Masih segar dalam ingatan kita ketika pemerintah (BNSP)
menetapkan standar kelulusan minimal 3,0 untuk setiap mata pelajaran UN pada
tahun 2002/2003 (Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika/Ekonomi), standar
3,25 untuk tahun 2003/2004, standar 4,0 untuk tahun 2004/2005 tidak terdengar oleh
kita ada peserta ujian yang dinyatakan lulus memperoleh nilai 10 pada mata
pelajaran UN. Ketika pemerintah menetapkan standar kelulusan 4,25 untuk tahun
2005/2006 barulah mulai terdengar ada peserta ujian nasional yang dinyatakan
lulus memperoleh nilai 10. Sekedar perbandingan perhatikan pula hasil Ujian
Nasional pada tahun 2010/2011, rata-rata siswa memiliki nilai 10 pada salah
satu atau beberapa mata pelajaran UN (Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris,
Matematika, Kimia, Fisika, Biologi/Sosiologi,Ekonomi, Geografi). Sungguh nilai
yang sangat fantastis, bahkan guru yang mengajar pada mata pelajaran tersebut
belum tentu pernah memperoleh hasil UN (NEM) dengan nilai angka tersebut.
Mungkinkah sejarah dunia pendidikan kita sudah memasuki
babak baru? Mudah-mudahan demikian. Tidak masalah jika peserta Ujian Nasional
yang dinyatakan lulus dengan memperoleh angka 10 adalah siswa yang benar-benar
memiliki kemampuan akademik yang baik. Persoalannya adalah bagaimana jika peserta
ujian yang memperoleh nilai 10 pada mata pelajaran UN tersebut justru adalah
siswa yang selalu membuat onar di sekolah, yang selalu nongkrong di kantin
ketika jam pelajaran berlangsung – selalu digiring kepala sekolah seperti
gembala menggiring ternak atau bahkan tidak tahu jika ditanya apa nama ibukota
Negara Indonesia, berapa jumlah Propinsi di Indonesia, atau Operasi sederhana
hasil penjumlahan (-7 + 2).
Lantas bagaimakah kita akan membangun kharakter bangsa yang
luhur yang selalu kita cita-citakan bila dunia pendidikan kita tidak berani
jujur. Peribahasa Jepang mengatakan “karena paku sebuah maka sepatu kuda
terlepas, karena sepatu nya terlepas maka kuda nya tak dapat berlari, karena
kuda nya tak dapat berlari maka pesan nya tak terkirim, karena pesan nya tak
terkirim maka kalah berperang”.
Sekecil apapun yang kita lakukan terhadap dunia pendidikan
kita, akan sangat mempengaruhi bagaimana pendidikan kita jadinya. Akankah dunia
pendidikan kita selalu diwarnai dengan kecurangan-kecurangan demi ambisi dan
demi gengsi dari para elit di negeri ini? Mari kita tunggu berita-berita selanjutnya
tentang kecurangan seputar penyelenggaraan Ujian Nasional.
Catatan:
Artikel ini sudah dimuat di harian umum Linggau Pos Pada Bulan Mei 2012