Selasa, 02 Juli 2013

Beranikah Dunia Pendidikan Kita Jujur



BERANIKAH DUNIA PENDIDIKAN KITA JUJUR?
Oleh: FITRIYANTO, S.Pd



“Ditengah hingar bingar kampanye untuk membangun kembali kharakter bangsa yang mulai pupus dari bumi pertiwi ini ternyata banyak sekali kasus yang justru merupakan antithesis dari kampanye tersebut”.

Kasus mencontek massal Ujian Nasional (UN) di salah satu sekolah dasar yang ada di Surabaya yang pada akhirnya mencuat menjadi issue nasional ini sungguh telah menghenyakkan Republik ini. Betapa tidak, siswa sekolah dasar yang masih polos dan tak berdosa yang seharusnya ditanamkan nilai-nilai luhur dan ahlak mulia akan tetapi justru dicekoki dengan racun kebohongan dan ketidakjujuran.Namun yang menjadi pertanyaannya adalah; apakah kasus mencontek massal Ujian Nasional hanya terjadi di sekolah dasar yang ada di Surabaya tersebut? Jawabannya, tidak.
Bukan rahasia bila kasus mencontek massal Ujian Nasionaljuga telah terjadi di sekolah-sekolah lainnya, bukan hanya di sekolah dasar, di tingkat SLTP, bahkan di tingkat SMA. Agaknya memang sudah jadi trend budaya bangsa kita melakukan aktivitas secara massal; sunatan massal, mencontek massal, berkelahi massal, kawin massal atau bahkan jika sudah jadi pejabat - korupsi massal.
Ditengah hingar bingar kampanye untuk membangun kembali kharakter bangsa yang mulai pupus dari bumi pertiwi ini ternyata banyak sekali kasus yang justru merupakan antithesis dari kampanye tersebut. Untuk membangun kembali kharakter bangsa kita yang luhur tidak cukup hanya dengan slogan-slogan, tetapi dibutuhkan keberanian dan aksi yang nyata.
Keberanian orang tua siswa SD Negeri Ngadel, Surabaya melaporkan kasus mencontek massal tersebut layak mendapatkan apresiasi dan dukungan dari seluruh masyarakat, pakar pendidikan, para praktisi pendidikan atau guru serta pemerintah sebagai pembuat kebijakan. Beranikah dunia pendidikan kita jujur?Mengapa Ujian Nasional selalu menjadi kontroversi antara pihak yang menganggap UN tidak perlu ada dan pihak yang menganggap UN harus ada?
Masih segar dalam ingatan kita ketika pemerintah (BNSP) menetapkan standar kelulusan minimal 3,0 untuk setiap mata pelajaran UN pada tahun 2002/2003 (Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika/Ekonomi), standar 3,25 untuk tahun 2003/2004, standar 4,0 untuk tahun 2004/2005 tidak terdengar oleh kita ada peserta ujian yang dinyatakan lulus memperoleh nilai 10 pada mata pelajaran UN. Ketika pemerintah menetapkan standar kelulusan 4,25 untuk tahun 2005/2006 barulah mulai terdengar ada peserta ujian nasional yang dinyatakan lulus memperoleh nilai 10. Sekedar perbandingan perhatikan pula hasil Ujian Nasional pada tahun 2010/2011, rata-rata siswa memiliki nilai 10 pada salah satu atau beberapa mata pelajaran UN (Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Kimia, Fisika, Biologi/Sosiologi,Ekonomi, Geografi). Sungguh nilai yang sangat fantastis, bahkan guru yang mengajar pada mata pelajaran tersebut belum tentu pernah memperoleh hasil UN (NEM) dengan nilai angka tersebut.
Mungkinkah sejarah dunia pendidikan kita sudah memasuki babak baru? Mudah-mudahan demikian. Tidak masalah jika peserta Ujian Nasional yang dinyatakan lulus dengan memperoleh angka 10 adalah siswa yang benar-benar memiliki kemampuan akademik yang baik. Persoalannya adalah bagaimana jika peserta ujian yang memperoleh nilai 10 pada mata pelajaran UN tersebut justru adalah siswa yang selalu membuat onar di sekolah, yang selalu nongkrong di kantin ketika jam pelajaran berlangsung – selalu digiring kepala sekolah seperti gembala menggiring ternak atau bahkan tidak tahu jika ditanya apa nama ibukota Negara Indonesia, berapa jumlah Propinsi di Indonesia, atau Operasi sederhana hasil penjumlahan (-7 + 2).
Lantas bagaimakah kita akan membangun kharakter bangsa yang luhur yang selalu kita cita-citakan bila dunia pendidikan kita tidak berani jujur. Peribahasa Jepang mengatakan “karena paku sebuah maka sepatu kuda terlepas, karena sepatu nya terlepas maka kuda nya tak dapat berlari, karena kuda nya tak dapat berlari maka pesan nya tak terkirim, karena pesan nya tak terkirim maka kalah berperang”.
Sekecil apapun yang kita lakukan terhadap dunia pendidikan kita, akan sangat mempengaruhi bagaimana pendidikan kita jadinya. Akankah dunia pendidikan kita selalu diwarnai dengan kecurangan-kecurangan demi ambisi dan demi gengsi dari para elit di negeri ini? Mari kita tunggu berita-berita selanjutnya tentang kecurangan seputar penyelenggaraan Ujian Nasional.



Catatan:
Artikel ini sudah dimuat di harian umum Linggau Pos Pada Bulan Mei 2012